Potensi Ekspor Komoditas Unggulan Di Tengah Resesi Global

Resesi ekonomi yang mengancam dunia sedang marak dalam pemberitaan. Akan tetapi, hal tersebut justru menimbulkan kesempatan untuk meraup keuntungan dari ekspor komoditas unggulan. Apa saja komoditas tersebut? Simak hingga tuntas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat membuka pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara anggota G20 di Washington DC, Amerika Serikat (AS) menyampaikan bahwa dunia dalam situasi bahaya.

Menanggapi hal tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan bahwa memang saat ini banyak negara memang berada di bawah ancaman resesi akibat mayoritas suku bunga acuan dunia yang berada di bawah tingkat inflasi.

“Data dari Trading Economics, 75 persen suku bunga acuan negara-negara di dunia berada di bawah tingkat inflasi. Artinya secara Time Value of Money, nilai nominal dan real uang sudah minus karena tergerus oleh inflasi. Artinya perekonomian dunia sudah tidak sehat dan selanjutnya berpotensi menimbulkan kemiskinan secara bersamaan.

Dia menambahkan, meskipun turut merasakan dampak gelombang inflasi, ia berharap kondisi RI tidak sedalam negara lain karena telah memiliki modal swasembada beras, rencana pengembangan subtitusi impor, serta ekspor komoditas.

Untungnya keadaan Indonesia sekarang relatif lebih baik. Yang perlu dilakukan adalah menjaga sustainability berbagai komoditas ekspor seperti batu bara, CPO, dan lain-lain. Untuk pangan, kita juga sudah swasembada beras dalam tahun-tahun terakhir, dan sedang meningkatkan produksi jagung dan kedelai. Selain itu program subtitusi jelas harus diwujudkan. Karena mayoritas masyarakat kita suka makan mie yang bahan dasarnya gandum dari impor. Maka pengembangan sorgum harus terus ditingkatkan untuk mengganti kebutuhan impor kita,” tuturnya.

Akan tetapi, ancaman resesi dunia ini mendorong pemerintah untuk menjaga kesinambungan serta meningkatkan volume produksi sejumlah komoditas unggulan untuk menjaga kinerja ekspor nasional. Pasalnya, harga-harga komoditas di tingkat global mulai melandai.

Hal itu disampaikan ekonom dari Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi, Selasa (25/10).  Peningkatan volume itu menurutnya, juga dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai surplus dagang sebesar US$60 miliar seperti yang diproyeksikan pemerintah. “Dalam jangka pendek, untuk mempertahankan kinerja dagang kita ke depan pemerintah harus terus berupaya menjaga kesinambungan produksi dari komoditas-komoditas penting Indonesia,” kata Josua, Selasa (25/10). 

“Komoditas-komoditas tersebut yakni seperti batu bara, CPO, besi dan baja (terkait nikel) agar secara volume ekspor dapat terjaga atau meningkat sehingga dapat menghilangkan efek penurunan harga,” sambungnya. 

Dengan kondisi dunia yang sedang dibayangi ancaman resesi, proyeksi surplus dagang sebesar US$60 miliar menurut Josua relatif optimis. Pasalnya, hingga September 2022 nilai surplus dagang Indonesia tercatat US$39,87 miliar. Realisasi itu tumbuh 58,83% dari surplus 2021 yang tercatat hanya US$35,34 miliar. 

Namun tahun berjalan hanya menyisakan tiga bulan. Dengan kata lain, untuk mencapai proyeksi surplus tersebut, Indonesia mesti membukukan surplus dagang setidanya US$6,6 miliar per bulan. 

Josua menambahkan, surplus neraca dagang sedianya dapat menopang penyediaan likuiditas dolar Amerika Serikat dan memenuhi kebutuhan mata uang AS di dalam negeri. Hanya, menurutnya perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai signifikansi dolar AS itu bagi perekonomian domestik. 

“Memang itu dapat membantu likuiditas dolar AS dan kebutuhannya di dalam negeri. Namun perlu dikaji lebih jauh terkait dengan berapa lama Devisa Hasil Ekspor (DHE) tersebut bertahan di pasar domestik dan menjadi likuiditas bagi perekonomian domestik,” ujar Josua. 

Diketahui sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, nilai surplus dagang Indonesia sepanjang 2022 diperkirakan bakal menembus US$60 miliar. Ini bahkan lebih besar dibanding era ledakan komoditas (boom commodity) di 2010-2011. 

“Perdagangan kita tahun ini diproyeksikan menjadi US$60 miliar secara signifikan lebih besar dari surplus perdagangan tahunan sekitar US$22 miliar dan US$26 miliar selama commodity boom terakhir pada 2010 atau 2011,” ujarnya.

 

Sumber:

https://mediaindonesia.com/ekonomi/532456/hadapi-resesi-global-pemerintah-didorong-tingkatkan-volume-ekspor-komoditas-unggulan

https://ubaya.ac.id/2018/content/news_detail/3958/Untuk-Redam-Dampak-Resesi–Ini-Kata-Pakar.html

Leave a Comment

Your email address will not be published.